:::online visitor:::

Thursday, August 20, 2009


Manisnya iman
Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.

Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?

Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24

“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha

Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.

Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?

Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

“Istildzaadz at-thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

رَحِمَ الله ُنِسَاءَ اْلاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَاتِ لَمَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِنَّ “وَلْيَضْرِبْنَ مِنْ جَلاَ بِيْبِهِنَّ عَلَى جُيُوْ بِهِنَّ” شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَلْيَخْتَمِرْنَ بِهَا

“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.”

Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,

“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.”

Yang lainnya pun turut berkomentar,

“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”

Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)

Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم).

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً)) (رواه مسلم).

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.

Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya

Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)

Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قاَلَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلِايْمَانِ :اَلاْنِفْاَقُ مِنَ اُلاِقْتَارِ ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ (رواه عبد الرزاق) علقه البخاري في (كتاب الايمان)

Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.” (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).

Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman

Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya

Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya

Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ يَجِدْ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلاِيْمَانِ : تَرْكُ اْلمِرَاءِ فيِ الْحَقِّ ، وَاْلكِذْبُ فِي اْلمُزَاحَةِ ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ. (رواه عبد الرزاق)

Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” (Diriwayatkan Abdurrazzaq).

عن أنس مرفوعا: “لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ … ” الحديث . أخرجه ابن أبي عاصم ( 247 ) بإسناد حسن عنه. (الألباني – السلسلة الصحيحة)

Dari Anas secara marfu’ mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.

(قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ) * وَالْغَضُّ عَنِ الْمَحَارِمِ يُوْجِبُ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ، وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ أَطْلَقَ لَحَظَاتِهِ دَامَتْ حَسَرَاتُهُ. (فيض القدير 1/677).

“Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka…” (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya”

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَلاَ تَجِدُ امْرَأَةٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا عَلَى قَتَبٍ.” (المعجم الكبير للطبراني)

Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnya

قاَلَ اِبْنُ رَجَبْ فِي (فَتْحِ الْبَارِي: 1/27): فَإِذَا وَجَدَ اْلقَلْبُ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَحَسَّ بِمَرَارَةِ اْلكُفْرِ وَاْلفُسُوْقِ وَاْلعِصْيَانِ وَلِهَذَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: {رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ} [يوسف33].

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Mencari teman ke syurga

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Teman yang baik adalah anugerah yang tidak ternilai daripada Allah. Teman yang baik penunjuk jalan, penguat langkah dan azam, pendamping yang akan selalu mengingatkan untuk bersungguh-sungguh berusaha membuat bekal negeri abadi. Manusia yang lemah seperti kita tentunya memerlukan teman, untuk berkongsi suka dan duka, untuk mengingatkan kala terleka, untuk menemani kala beramal ibadat agar lebih bersungguh-sungguh, demi bersama meraih syurgaNya. Seorang Nabi Allah, Nabi Musa AS pun memerlukan teman lantas baginda berdoa kepada Allah agar mengurniakan teman penguat langkah, teman ke syurga.

"Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, iaitu (Harun), saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatiMu, sesungguhnya Allah Maha Melihat Keadaan kami" (20:29-35)

Kisah Nabi Musa memohon teman dari Allah untuk membantu menguatkannya membuktikan betapa kita sebagai manusia sangat memerlukan teman untuk menemani dalam urusan hidup seharian dan juga untuk sama-sama beribadat kepada Allah. Bukankah seorang anak Adam itu akan lebih bersungguh-sungguh mengejar redhaNya dan meningkatkan segala amal apabila mempunyai teman yang seiring dan sejalan?

Saidina Umar mengatakan, "Tiada satu kebaikan pun yang dianugerahkan kepada seorang hamba sesudah Islam, selain saudaranya yang soleh. Apabila seseorang di antara kamu merasakan sentuhan kasih sayang dari saudaranya, maka hendaklah ia berpegang kepadanya" Malah, Saidina Umar meminta kita 'berpegang kepadanya', iaitu bermakna tidak melepaskan dan menghargai teman tersebut kerana kita sebenarnya dianugerahkan kebaikan yang sangat besar apabila dikurniakan teman yang soleh.

Namun, berusahakah kita untuk menjadi teman ke syurga kala mencari teman ke syurga? Jadikah kita sahabat yang baik yang sentiasa mengajak teman kita kepada kebaikan, yang sentiasa mengingatkan teman kita akan janji-janji Allah, yang menunjukkan kepada teman kita qudwah yang baik? MENJADI TEMAN KE SYURGA Menjadi teman ke syurga dan mencari teman ke syurga, segalanya hanya berlaku apabila asasnya didasari taqwa yang kuat. Taqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dengan ketaqwaan yang layak bagiNya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya" (3:102)

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita untuk membiarkan hati kita berusaha keras mencapai taqwa menurut batas kemampuan yang ada pada dirinya. Setiap kali ia mendekat kepada Allah dengan ketaqwaan maka akan terbukalah hatinya untuk berusaha mencapai kedudukan yang lebih tinggi dari apa yang telah dicapainya, dan merindukan darjat yang ada di atas apa yang telah diraihnya lalu selalu memandang ke arah kedudukan yang lebih tinggi lagi.

Muhammad Ahmad Rasyid mengatakan "ketinggian itu hanya boleh diraih dengan kelelahan", memberitahu kepada kita bahawa kita perlu berusaha bersungguh-sungguh utk mendapat darjat ketinggian taqwa di sisi Allah. Apa kaitan taqwa dan teman ke syurga? Taqwa dalam diri sahaja yang akan mendorong seseorang mencari teman ke syurga, menemaninya dalam kehidupan siang harinya, mendampinginya dalam ibadah malamnya. Dan seseorang yang benar-benar meletakkan taqwanya kepada Allah sahaja akan bersungguh-sungguh (sehingga kelelahan tetapi) terus ingin meningkatkan darjatnya di sisi Allah dan dia benar-benar memerlukan teman untuk menguatkan urusan siang dan malamnya, sebagai hamba, dan khalifah. Ciri taqwa ini akan menjadikan dirinya sendiri adalah seorang teman ke syurga, lantas dia layak untuk mendapat teman ke syurga yang hanya didapati melalui anugerah dari Allah. Teman yang akan sentiasa mengingatkan, tatkala kelelahan, akan janji yang menjadi asas perhubungan ini, asasnya hanya kerana Allah, lantas itu kita menjadi "menjadi teman ke syurga".





Kita bertemu atas kesungguhan dan ikrar kita pada jalan Allah, dan perpisahan kita pun hanyalah kerana Allah juga kerana walau apapun matlamat kita hanya satu, meraih syurgaNya. "Didiklah diri kamu kepada cinta pada Allah, bermula pada diri kamu. Tingkatkan penghayatan diri kamu pada cinta pada Allah, berusaha membaiki dan meningkatkan diri kamu menjadi hamba Allah yang lebih taat, nescaya kamu akan menjadi teman ke syurga dan Allah akan mengurniakanmu teman ke syurga."

Marilah sejenak kita mengambil pengajaran dari Hadith Qudsi, dari Allah, Pencipta dan Pemilik kasih sayang dan cinta, yang menitipkan kasih sayang antara hati-hati, yang mengekalkan ikatan antaranya, yang memperteguhkan janji ikrar mereka untuk menjadi 'teman ke syurga', mencari redhaNya yang Esa, Pemberi Segalanya, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. "CintaKu mesti bagi orang-orang yang saling mencintai kerana Aku, CintaKu mesti bagi orang-orang yang saling bersilaturahim kerana Aku, CintaKu mesti mesti bagi orang yang saling menasihati kerana AKu, CintaKu mesti bagi orang-orang yang saling mengunjungi kerana Aku, CintaKu mesti bagi orang-orang yang saling memberi kerana Aku" (Hadith Qudsi) Lihatlah betapa Allah menjanjikan cintaNya yang Maha Agung kepada "teman ke syurga". Besarnya kemuliaan Allah janjikan kepada mereka yang mendasari perhubungan kerana sama-sama mahu mengejar redhaNya, menjadi teman ke syurga lantas dikurniakan teman ke syurga.

Ayuh, perbaiki diri !

Ayah dan Bonda

Ku lukiskan potret sebuah cerita,
Terpahat indah didalam memori,
Kehidupan ku semasa kecilku,
Belajar memahami erti kehidupan,

Kini ku, setelah ku dewasa,
Jasa ayah dan bondaku, tidak akan ku lupa,
Mengajar ku erti kehidupan,
yang penuh dengan kenangan,

Ayah dan bonda,
Terimakasih kerana memberikan ku kekuatan,
Menjadi teman duka dikala ku terluka,

Kaulah sumber inspirasiku,
Menjadi teman gembira,
Sentiasa disisi bila ku perlukan mu,
Oh Ayah dan Bonda

Jasa mu tidak akan ku lupa,
Mendewasakan ku dengan sempurna,

Chorus
Terimakasih atas semuanya,
Besar jasamu tidak mampu ku balas,
Biar segunung harta dan wang berjuta,
Tidak senilai dengan keringat dan airmata,

Kan ku hiasi malam hariku,
Dengan doaku kepada yang Esa,
Ampunilah dosa kedua mereka,
Kasihanilah mereka seperti kecil ku

Ayah dan bonda dengarlah lagu ku ini,
Sebagai bicara penyusun kata,
Tiada ku mampu membalas jasamu,
Memori indah sebuah kehidupan..

Friday, July 31, 2009

10 cara membahagiakan ibu bapa


Setiap anak wajib berbakti dan mentaati ibu bapa bertujuan membahagiakan kehidupan mereka melalui hari tua. Ajaran Islam meletakkan ibu bapa pada kedudukan yang mulia.

Banyak bakti yang boleh dilakukan kepada ibu bapa. Bakti itu dalam bentuk metarial dan hubungan kasih sayang. Ini bersesuaian dengan fizikal ibu bapa yang semakin uzur dan memerlukan lebih perhatian.

Terdapat sekurang-kurangnya 10 bakti perlu dilakukan setiap anak terhadap ibu bapa. - Memberi nafkah. Terdapat ibu bapa yang berdepan dengan masalah kewangan. Mereka tidak dapat lagi melakukan tugas seharian disebabkan faktor usia. Kalaupun berkerja, tetapi tidak mencukupi untuk menampung perbelanjaan keluarga yang semakin meningkat.

Justeru menjadi tanggungjawab anak memberi nafkah atau bantuan kewangan kepada ibu bapa. Sumbangan itu tidak seberapa berbanding yang dibelanjakan ibu bapa untuk membesar dan mendidik anak.

- Menyediakan tempat tinggal. Dalam kes ibu bapa yang hilang tempat tinggal, atau tidak sesuai untuk didiami, adalah menjadi tanggungjawab anak menyediakan tempat tinggal yang lebih sesuai kepada ibu bapa.

Paling baik jika ibu bapa dibawa tinggal bersama agar dapat menjamin keselamatan dan keperluan harian mereka diuruskan dengan baik.

- Memberi kasih sayang. Kasih sayang adalah sebagai membalas kasih sayang yang selama ini telah dicurahkan ibu bapa. Kasih sayang ibu dan bapa tidak pernah padam terhadap anaknya. Jadi seharusnya kasih sayang itu dibalas dengan sebaik-baiknya.

Anak yang baik tidak melupai jasa dan kasih sayang kedua ibu bapa. Anak soleh sentiasa memohon kepada Allah agar ibu bapa mereka diberkati dan dicucuri rahmat.

Firman Allah bermaksud: ?Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka mencurahkan kasih sayang memelihara dan mendidikku ketika kecil.? (Surah al-Isra, ayat 24).

- Memberi perhatian. Ibu bapa yang diabaikan akan merasai kesunyian. Mereka terasa disisih dan dan seperti tidak diperdulikan. Hal ini memberi tekanan perasaan dan menyebabkan kemurungan. Keadaan ini jika berterusan memberi kesan kepada kesihatan fizikal dan mental ibu bapa.

Penerapan amalan memberi perhatian terhadap ibu bapa perlu disemai, dibajai serta disuburkan dalam kehidupan masyarakat kita. Kes anak yang ?membuang? ibu bapa semakin meningkat. Anak memandang jijik terhadap ibu bapa sendiri.

Banyak ibu bapa yang disisihkan dan dihantar ke rumah rumah penjagaan orang-orang tua. Sukar diterima akal anak mendakwa tidak mampu menjaga ibu bapa. Sedangkan, ibu bapa mampu menjaga dan membesarkan beberapa orang anak.

- Memenuhi permintaan. Ibu bapa seringkali memerlukan bantuan anak untuk melaksanakan sesuatu keperluan. Permintaan itu mungkin dalam bentuk kewangan, tenaga dan masa.

Memenuhi permintaan ibu bapa perlu diutamakan berbanding melakukan tugas lain. Sesungguhnya, memenuhi permintaan ibu bapa lebih baik berbanding melakukan ibadat sembahyang sunat, berpuasa sunat, dan seumpamanya.

Malah keutamaan berbakti kepada ibu bapa lebih utama berjihad di medan perang. Diriwaytkan daripada Bukhri dan Muslim, Ibnu Umar berkata: ?Saya telah bertanya kepada Nabi Muhammad: ?Apakah perbuatan disukai oleh Allah??

Lalu baginda bersabda: ?Sembahyang pada waktunya.? Kemudian apa?? tanya saya lagi. Baginda menjawab: ?Berbakti kepada kedua ibu bapa.? Saya bertanya: ?Apa lagi.? Jawab baginda: ?Berjihad pada jalan Allah.?

- Melakukan apa yang disukai. Ibu bapa sudah tentu mengharapkan anaknya melakukan sesuatu yang baik pada pandangan mereka. Melakukan perkara yang tidak sukai ibu bapa bermakna melakukan perbuatan derhaka.

Anak derhaka kepada ibu bapa tidak mendapat keberkatan dalam kehidupannya. Sesiapa derhaka kepada ibu bapa disegerakan balasan di dunia dan tidak terlepas di akhirat.

Sabda Rasulullah bermaksud: ?Dua kejahatan yang disegerakan balasan di dunia ialah zina dan menderhaka kepada dua ibu bapa.? (Hadis riwayat Tirmizi).

Dalam hadis lain diriwayatkan al-Hakam bermaksud: ?Semua dosa akan ditangguhkan Allah, yakni balasan menurut kehendak-Nya hingga ke hari kiamat, kecuali balasan menderhaka kepada kedua ibu bapa. Maka sesungguhnya Allah menyegerakan balasan kepada pelakunya pada masa hidupnya sebelum mati.?

- Bercakap dengan lemah lembut. Satu cara menjaga perasaan ibu bapa ialah bercakap lemah lembut dengan mereka. Suara hendaklah direndahkan dan jangan membantah permintaan mereka.

Firman Allah bermaksud: ?Tuhanmu telah memerintahkan, supaya kamu tidak menyembah selain Allah, dan hendaklah berbuat santun terhadap kedua orang tua. Jika salah seorang telah lanjut usianya, atau kedua-duanya telah tua, janganlah sekali-kali engkau berani berkata ?cis? terhadap mereka dan janganlah engkau suka menggertak mereka. Tetapi berkatalah dengan sopan santun dan lemah lembut.? (Surah al-Israk, ayat 23).

Sesungguhnya, anak ditegah membantah kata-kata ibu bapa dengan suara tinggi atau bermaksud merendahkan kedudukan ibu bapa. Lebih baik berdiam diri daripada berkata-kata yang mungkin menyinggung perasaan ibu bapa. Kemudian jika ada kesempatan, gunakan cara yang lembut untuk menjelaskan keadaan sebenar.

- Menghadiahkan kejayaan. Ibu bapa sentiasa mengharapkan kejayaan anak mereka. Anak hendaklah berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai kejayaan agar dapat dikongsi kegembiraannya bersama-sama dengan ibu bapa.

Jadi, jika memperoleh kejayaan dalam pelajaran, mendapat pekerjaan, dinaikkan pangkat dan seumpamanya, seharusnya dimaklumkan kepada ibu bapa. Ibu bapa dibawa bersama-sama dalam majlis untuk meraikan kejayaan itu.

- Meluangkan masa bersama-sama. Anak yang tinggal berasingan dengan ibu bapa perlu kerap meluangkan masa mengunjungi ibu bapa. Ibu bapa berasa senang menerima kunjungan dan menatap wajah anaknya.

- Mendoakan kebaikan untuk ibu bapa. Anak perlu sentiasa mendoakan kebaikan untuk ibu bapanya. Amalan mendoakan kebaikan untuk ibu bapa perlu diteruskan biarpun ibu bapa telah meninggal dunia.

Sabda Rasulullah bermaksud: ?Apabila meninggal seseorang itu, maka terputuslah segala amalannya, melainkan tiga perkara iaitu sedekah jariah yang berterusan memberi manfaat, ilmu yang memberi kebaikan diajarkan kepada orang lain dan anak yang soleh yang sentiasa mendoakan kebaikan kepada kedua ibu bapanya.? (Hadis riwayat Muslim).

Kebaikan dilakukan anak terhadap ibu bapa sebenarnya amat kecil Anak tidak mampu untuk membalas jasa ibu bapa sepenuhnya biarpun dia berbakti sepanjang hayatnya.

Gunakan kesempatan yang ada untuk melakukan bakti terhadap ibu bapa sebaik mungkin. Masa untuk anak berbakti kepada ibu bapa sebenarnya semakin suntuk. Lambat laun ibu bapa akan meninggal dunia. Bertindaklah sebelum terlambat, selagi ibu bapa atau salah seorangnya masih hidup.

Thursday, July 23, 2009

tips hilangkan stress...!!!!!!!

Terdapat beberapa tips yang kita boleh amalkan bertujuan mengurangkan
tekanan hidup. Antaranya ialah :

1) Biasakan diri berada dalam keadaan berwuduk


Jiwa kita akan menjadi tenang jika kita membiasakan diri mengambil wuduk
sebelum melakukan pekerjaan. Kerja yang susah akan menjadi senang dan
mudah diselesaikan. Para pelajar misalnya, disarankan agar membiasakan
diri mengambil wuduk sebelum mengulang kaji pelajaran agar apa yang dibaca
akan mudah diingati.

2) Perbanyakkan membaca Al-Qur'an

Ganjaran yang besar akan diberikan Allah bagi sesiapa yang membaca
Al-Quran walaupun satu ayat. Waktu yang sesuai bagi kita untuk membaca
Al-Quran ialah selepas solat lima waktu dan waktu-waktu lain seperti
ketika berehat dan sebelum tidur. Oleh itu, jadikanlah Al-Quran sebagai
teman paling akrab pada sepanjang waktu.

3) Banyakkan Solat Sunat

Sebagai makhluk paling mulia di sisi Allah, kita disuruh membanyakkan amal
ibadat kita sehari-hari. Antaranya, dengan mendirikan solat sunat. Solat
sunat hajat, solat sunat taubat, solat sunat tasbih adalah antara pelbagai
solat sunat yang terdapat dalam Islam. Kita bangun pada sepertiga malam
dan mendirikan solat-solat sunat tersebut agar beroleh ketenangan dan
kekuatan daripada Allah.

4) Selalu berdoa kepada Allah

Allah telah berpesan iaitu jangan menyembah selain daripada-Nya. Ini
bererti kita disuruh berdoa hanya kepada Allah yang Maha Esa dan dilakukan
secara berterusan. Waktu-waktu mustajab berdoa adalah pada malam Jumaat,
tengah malam, pagi sebelum waktu Subuh, malam hari raya, ketika waktu azan
dan iqamah. Insya-Allah, Allah akan memakbulkan doa setiap hamba-Nya yang
benar-benar ikhlas. Namun, kita perlulah sedar bahawa sebarang rezeki
tidak akan datang bergolek sekiranya tanpa usaha yang bersungguh-sungguh.
Maka kita perlulah berusaha supaya mencapai sesuatu di samping berdoa
hanya kepada Allah yang Esa.

5) Bersangka baik dengan Allah

Kita sebagai manusia biasanya tidak akan terlepas daripada berhadapan
dengan ujian dalam hidup. Semuanya itu adalah ujian daripada Allah yang
Berkuasa bertujuan menguji keimanan kita sebagai hamba Allah. Oleh itu,
kita mestilah bersangka baik dengan Allah dan janganlah menyalahkan-Nya
jika terjadi sesuatu ke atas diri kita. Kita juga mesti percaya bahawa
tentu ada hikmah di sebalik kejadian itu.

6) Lakukan kegiatan luar seperti bersukan

Orang ramai selalu berkata bahawa badan yang cerdas akan membentuk otak
yang cergas. Segala tekanan sewaktu bekerja akan dilupakan apabila kita
melakukan aktiviti-aktiviti luar yang dapat menyihatkan tubuh badan
seperti bersukan. Situasi akan menjadi lebih menggembirakan jika kita
meluangkan masa membawa keluarga pergi beriadah. Ikatan kekeluargaan juga
akan bertambah erat dan kukuh.

7) Amal diet dengan disiplin yang kuat

Pengambilan makanan yang berlebihan dan tidak seimbang juga merupakan
salah satu faktor tekanan sewaktu bekerja. Oleh itu, cara untuk
mengurangkan tekanan adalah mengamalkan diet dengan disiplin yang kuat.
Diet yang tidak terkawal akan menyebabkan kegemukan dan menimbulkan
penyakit kronik yang lain seperti lemah jantung, darah tinggi, kencing
manis.

8) Menangis dengan sepuas hati

Tekanan yang dihadapi sekiranya melibatkan individu yang lain dapat
diredakan melalui luahan hati kita dengan menuliskan rasa ketidakpuasan
hati kita itu dalam sehelai kertas. Sikap cuba menyimpan perasaan tersebut
dalam hati boleh menyebabkan diri merana. "Luaran lain hati lain" ada
sesetengah individu apabila mereka mengalami sesuatu tekanan, mereka
seolah-olah tidak menunjukkan permasalahan mereka itu. Sebagai contoh,
bila dilihat bersama rakan-rakan tetapi dalam hatinya hanya Allah yang
Maha mengurangkan tekanan yang dihadapi di tempat kerja.

9) Hargai kebolehan diri sendiri

Kita perlu mempunyai satu sikap yang dipanggil yakin diri. Apabila kita
mempunyai keyakinan diri, maka kita tidak akan mempunyai masalah untuk
melakukan sesuatu pekerjaan yang disuruh oleh pihak lain sewaktu bekerja.
Kita yakin bahawa kita boleh melakukan kerja yang disuruh dengan mudah dan
tiada sebarang masalah yang dihadapi. Apa yang penting ialah, kita mesti
menghargai kebolehan diri sendiri dan memulakan hidup dengan lebih ceria.

10) Cintai diri sendiri

"Cintailah diri kamu sendiri sebelum kamu mencintai diri orang lain".
Jelas daripada maksud sepotong hadis ini, kita dapat memahami bahawa kita
perlu mencintai diri sendiri terlebih dahulu berbanding orang lain. Diri
kita yang selama ini masih pada tahap lama dalam pekerjaan perlu
dipertingkatkan dengan cara yang dinyatakan di atas. Kita perlu memulakan
kehidupan kita dengan ceria dan penuh dengan senyuman. Kesimpulan Sebagai
kesimpulannya, tekanan kerja bukanlah satu bebanan yang sukar untuk
diatasi. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang tinggi serta jalan
penyelesaian yang jitu, bebanan yang kita alami pastinya akan dapat
diselesaikan dengan jayanya.


Keinsafan

Kehidupan Manusia

kasihnya ibu

kasih ayah dan ibu

dajal